Hari Anak Sedunia 2025: Saatnya Dengarkan Suara Anak, Wujudkan Dunia Ramah Anak

Kamis, 20 November 2025 - 07:59

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Setiap tanggal 20 November, dunia memperingati Hari Anak Sedunia (World Children’s Day), momen penting untuk merayakan hak-hak anak di seluruh dunia. Tahun ini, UNICEF mengangkat tema “My Day, My Rights”, yang menekankan pentingnya mendengarkan suara anak-anak dan memahami bagaimana hak mereka hadir, hilang, atau diperjuangkan setiap hari.

Peringatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi gerakan global untuk memperjuangkan hak-hak anak sebagai hak asasi manusia yang tidak dapat dinegosiasikan.

Di berbagai negara, hak anak masih sering diabaikan—mulai dari akses pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan dari kekerasan.

Melalui tema tahun ini, masyarakat dunia diajak untuk memberi ruang bagi anak-anak dalam menyuarakan pendapat dan berpartisipasi dalam perubahan sosial.

Sejarah Hari Anak Sedunia

Hari Anak Sedunia pertama kali ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1954 dengan nama Universal Children’s Day. Tujuannya adalah mempromosikan kebersamaan internasional, meningkatkan kesadaran tentang kesejahteraan anak, serta memperkuat solidaritas antarnegara dalam memenuhi hak-hak mereka.

Tanggal 20 November dipilih karena memiliki makna historis. Pada 1959, Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Hak-Hak Anak, dan tiga dekade kemudian, tepat pada 1989, disahkan Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child). Konvensi tersebut menjadi perjanjian hak asasi manusia internasional yang paling banyak diratifikasi di dunia.

Isi konvensi tersebut menetapkan berbagai hak fundamental bagi anak, antara lain hak untuk hidup, memperoleh pendidikan, bermain, mendapatkan perlindungan dari kekerasan, serta didengar pendapatnya. Sejak tahun 1990, tanggal ini juga menandai peringatan adopsi Deklarasi dan Konvensi tentang Hak Anak oleh Majelis Umum PBB.

Aksi Global untuk Anak

UNICEF mendorong agar peringatan Hari Anak Sedunia 2025 menjadi hari aksi untuk anak dan oleh anak. Para orang tua, guru, tenaga kesehatan, pemimpin komunitas, tokoh agama, hingga media massa diajak berperan aktif dalam membangun lingkungan yang aman, inklusif, dan ramah bagi anak-anak.

Melalui peringatan ini, UNICEF mengajak semua pihak untuk membuka ruang dialog yang bermakna dengan anak-anak—mendengarkan ide mereka, memahami pandangan mereka tentang dunia, serta menjadikan aspirasi mereka sebagai dasar dalam kebijakan dan tindakan nyata.

Hari Anak Sedunia bukan hanya tentang memberikan perlindungan, tetapi juga tentang memberdayakan anak-anak sebagai subjek perubahan. Dengan mendengarkan suara mereka hari ini, dunia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih adil dan manusiawi untuk setiap anak.

JAKARTA — Setiap tanggal 20 November, dunia memperingati Hari Anak Sedunia (World Children’s Day), momen penting untuk merayakan hak-hak anak di seluruh dunia. Tahun ini, UNICEF mengangkat tema “My Day, My Rights”, yang menekankan pentingnya mendengarkan suara anak-anak dan memahami bagaimana hak mereka hadir, hilang, atau diperjuangkan setiap hari.

Peringatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi gerakan global untuk memperjuangkan hak-hak anak sebagai hak asasi manusia yang tidak dapat dinegosiasikan. Di berbagai negara, hak anak masih sering diabaikan—mulai dari akses pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan dari kekerasan. Melalui tema tahun ini, masyarakat dunia diajak untuk memberi ruang bagi anak-anak dalam menyuarakan pendapat dan berpartisipasi dalam perubahan sosial.

Sejarah Hari Anak Sedunia

Hari Anak Sedunia pertama kali ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1954 dengan nama Universal Children’s Day. Tujuannya adalah mempromosikan kebersamaan internasional, meningkatkan kesadaran tentang kesejahteraan anak, serta memperkuat solidaritas antarnegara dalam memenuhi hak-hak mereka.

Tanggal 20 November dipilih karena memiliki makna historis. Pada 1959, Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Hak-Hak Anak, dan tiga dekade kemudian, tepat pada 1989, disahkan Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child). Konvensi tersebut menjadi perjanjian hak asasi manusia internasional yang paling banyak diratifikasi di dunia.

Isi konvensi tersebut menetapkan berbagai hak fundamental bagi anak, antara lain hak untuk hidup, memperoleh pendidikan, bermain, mendapatkan perlindungan dari kekerasan, serta didengar pendapatnya. Sejak tahun 1990, tanggal ini juga menandai peringatan adopsi Deklarasi dan Konvensi tentang Hak Anak oleh Majelis Umum PBB.

Aksi Global untuk Anak

UNICEF mendorong agar peringatan Hari Anak Sedunia 2025 menjadi hari aksi untuk anak dan oleh anak. Para orang tua, guru, tenaga kesehatan, pemimpin komunitas, tokoh agama, hingga media massa diajak berperan aktif dalam membangun lingkungan yang aman, inklusif, dan ramah bagi anak-anak.

Melalui peringatan ini, UNICEF mengajak semua pihak untuk membuka ruang dialog yang bermakna dengan anak-anak—mendengarkan ide mereka, memahami pandangan mereka tentang dunia, serta menjadikan aspirasi mereka sebagai dasar dalam kebijakan dan tindakan nyata.

Hari Anak Sedunia bukan hanya tentang memberikan perlindungan, tetapi juga tentang memberdayakan anak-anak sebagai subjek perubahan. Dengan mendengarkan suara mereka hari ini, dunia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih adil dan manusiawi untuk setiap anak.

Penulis : IB

Follow WhatsApp Channel intainews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Doraemon Pamit dari Layar Kaca: Akhir Sebuah Era, Awal Babak Baru Hiburan Anak Indonesia
Malaysia Terapkan Sanksi Berat bagi Pembuang Sampah Sembarangan, Termasuk WNA
BMKG Ingatkan Daerah Siaga Hadapi Puncak Musim Hujan Awal 2026
Kasus Flu di AS Meningkat Tajam, Varian Baru Sebabkan Ketidaksesuaian Vaksin
BMKG: Tiga Sistem Siklon Kepung Indonesia, Potensi Cuaca Ekstrem Meningkat
Wall Street Tertekan, Kekhawatiran Gelembung AI dan Ekonomi AS Picu Aksi Jual
BMKG Deteksi Dua Bibit Siklon Tropis di Dekat Indonesia, Picu Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah
Fenomena Rayakan Perceraian: Tasya Farasya Unggah Mini Cake, Psikolog Jelaskan Alasannya

Berita Terkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 09:07

Doraemon Pamit dari Layar Kaca: Akhir Sebuah Era, Awal Babak Baru Hiburan Anak Indonesia

Rabu, 7 Januari 2026 - 09:36

Malaysia Terapkan Sanksi Berat bagi Pembuang Sampah Sembarangan, Termasuk WNA

Rabu, 31 Desember 2025 - 06:52

BMKG Ingatkan Daerah Siaga Hadapi Puncak Musim Hujan Awal 2026

Rabu, 24 Desember 2025 - 14:25

Kasus Flu di AS Meningkat Tajam, Varian Baru Sebabkan Ketidaksesuaian Vaksin

Selasa, 16 Desember 2025 - 12:24

BMKG: Tiga Sistem Siklon Kepung Indonesia, Potensi Cuaca Ekstrem Meningkat

Berita Terbaru