INTAINEWS.ID — Berhentinya penayangan serial Doraemon di televisi nasional menimbulkan gelombang nostalgia dan kesedihan di kalangan publik Indonesia. Bagi sebagian besar penonton, terutama yang tumbuh pada era 1990-an hingga 2000-an, Doraemon bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari masa kecil yang tak tergantikan.
Alat-alat ajaib yang dikeluarkan dari kantong empat dimensi bukan hanya elemen hiburan, tetapi juga bagian dari imajinasi kolektif generasi penontonnya.
Kamera Dress Up, misalnya, menghadirkan fantasi mengganti pakaian secara instan hanya dengan memotret desain yang diinginkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Begitu pula dengan Pintu Ke Mana Saja atau Baling-Baling Bambu, yang menyalakan impian untuk menjelajah dunia tanpa batas.
Semua alat itu membentuk dunia yang absurd namun akrab — dunia yang mengajarkan bahwa solusi instan kerap membawa konsekuensi tak terduga. Nilai-nilai itu melekat kuat, menjadikan Doraemon lebih dari sekadar serial kartun.
Di tengah kesedihan publik, beredar pula berbagai spekulasi tentang masa depan Doraemon di Indonesia.
Sejumlah warganet meyakini serial ini tidak benar-benar berhenti tayang, melainkan hanya berpindah rumah siar.
Dugaan tersebut semakin kuat setelah muncul kabar bahwa pengisi suara versi Indonesia masih melakukan proses dubbing untuk episode terbaru.
Spekulasi lain menyebutkan bahwa hak siar Doraemon akan berpindah ke stasiun televisi lain, seiring film terbarunya yang kini tayang di Trans TV.
Ada pula yang memperkirakan serial legendaris ini akan beralih ke platform over-the-top (OTT), mengikuti tren konsumsi hiburan digital yang semakin dominan.
Terlepas dari benar atau tidaknya kabar tersebut, berakhirnya penayangan Doraemon di televisi nasional menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah penyiaran anak di Indonesia.
Serial yang selama puluhan tahun menjadi penanda Minggu pagi kini harus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman — dari layar kaca ke layar digital, dari jadwal tetap menjadi tontonan sesuai waktu pilihan.
Namun satu hal yang pasti, bagi generasi yang tumbuh bersama Nobita, Shizuka, Gian, Suneo, dan si kucing biru dari masa depan, Doraemon akan selalu hidup — bukan di televisi, melainkan di ingatan kolektif yang tak lekang oleh waktu.
Penulis : IB











