Oleh: Anitia Wulandari Pasaribu*
Di dalam etika komunikasi, penggunaan bahasa yang baik dan santun adalah hal yang sangat ditekankan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks keilmuan dan agama. Dalam konteks hukum Islam, etika komunikasi mengandung nilai-nilai moral yang memandu bagaimana seseorang seharusnya berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini penting karena ucapan seseorang dapat menciptakan dampak besar terhadap hubungan sosial, kehormatan, dan bahkan dapat membawa kepada pertentangan atau perpecahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam hal ini, kasus ucapan kontroversial yang melibatkan seorang tokoh agama, seperti Gus Miftah, yang menggunakan kata “goblok”, menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana Islam memandang ucapan semacam ini, baik dari segi etika komunikasi maupun hukum Islam. Islam menempatkan komunikasi sebagai alat untuk mempererat hubungan antar sesama dan menyebarkan kebaikan. Al-Qur’an dan hadis sangat menekankan penggunaan kata-kata yang baik dan bijak.
Dalam Surah Al-Isra’ (17:53), Allah SWT berfirman, “Perintahkanlah kepada hamba-hamba-Ku yang beriman agar mereka mengucapkan kata-kata yang baik…”. Ayat ini menggambarkan pentingnya memilih kata-kata yang baik dalam berbicara. Dalam salah satu hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau memilih diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menekankan bahwa ucapan yang baik adalah bagian dari iman, dan jika tidak dapat berkata baik, maka lebih baik untuk diam.
Dengan demikian, etika komunikasi Islam menuntut setiap individu untuk berhati-hati dalam menggunakan kata-kata, apalagi ketika berkomunikasi dengan orang lain dalam posisi publik. Ucapan yang dapat menyinggung atau merendahkan martabat orang lain, seperti kata “goblok” kepada seseorang, jelas bertentangan dengan prinsip dasar Islam tentang menjaga kehormatan dan saling menghormati.
Pada awal Desember 2024, Gus Miftah menjadi sorotan publik setelah sebuah video viral menunjukkan beliau bercanda dengan seorang penjual es teh bernama Sunhaji, menggunakan kata “goblok” saat menanggapi kondisi dagangan Sunhaji. Ucapan tersebut menuai kritik karena dianggap tidak pantas bagi seorang tokoh agama, sehingga Gus Miftah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan berjanji lebih berhati-hati dalam berbicara.
Jika mengacu pada ucapan kontroversial dari Gus Miftah yang menggunakan kata “goblok” kepada penjual es teh bernama Sunhaji, pernyataan tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap etika komunikasi Islam. Kata “goblok” adalah kata kasar yang secara langsung dapat merendahkan seseorang, bahkan dapat menimbulkan perasaan sakit hati atau penghinaan bagi yang mendengarnya. Dalam pandangan Islam, menjaga lisan adalah hal yang sangat penting. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, beliau mengingatkan, “Sesungguhnya seseorang itu terkadang dapat terjerumus dalam neraka karena kata-katanya yang tidak dipikirkan dengan baik.” (HR. Tirmidzi).
Meskipun ucapan tersebut bisa jadi disampaikan dengan niat tertentu atau dalam hal bercanda, penggunaan kata-kata kasar atau menghina tetap tidak dibenarkan dalam Islam. Ucapan seperti itu berisiko menyinggung perasaan orang lain dan bertentangan dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar yang mengajarkan untuk mencegah kemungkaran dan mengarahkan orang kepada kebaikan. Oleh karena itu, meskipun ada situasi atau alasan tertentu yang mendasari ucapan Gus, Islam tetap menuntut penggunaan kata-kata yang tidak menyakitkan orang lain.
Ucapan kontroversial yang viral di media sosial dapat membawa dampak yang sangat besar, terutama jika melibatkan tokoh publik atau figur agama. Media sosial saat ini memiliki kekuatan untuk menyebarkan informasi dalam waktu yang sangat cepat, dan ucapan seperti ini dapat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Jika ucapan tersebut menyinggung perasaan banyak orang, bisa berujung pada keresahan sosial, perpecahan, bahkan kecaman publik.
Dalam kasus ini, Gus Miftah sebagai tokoh agama, yang seharusnya menjadi teladan dalam berbicara, memikul tanggung jawab besar atas kata-kata yang diucapkannya. Dampak dari ucapan tersebut dalam masyarakat bisa menurunkan kepercayaan atau reputasi tokoh tersebut sebagai panutan. Masyarakat, terutama umat Muslim, bisa merasa kecewa atau bahkan marah jika seorang tokoh agama menggunakan kata-kata yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu, terlebih lagi tokoh agama, untuk memilih kata-kata yang lebih bijak dan sesuai dengan tuntunan Islam.
Kesimpulan
Pernyataan Gus Miftah yang menggunakan kata “goblok” kepada bapak Sunhaji, seorang penjual es teh, memberikan kesempatan untuk merenung lebih dalam tentang etika komunikasi dalam Islam. Meskipun mungkin tidak ada niat buruk di balik kata tersebut, penggunaan bahasa kasar atau menghina tetap bertentangan dengan prinsip-prinsip moral yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Hadis.
Islam mengajarkan agar setiap individu berhati-hati dalam berbicara, memilih kata-kata yang membangun kedamaian dan menjaga kehormatan sesama. Tokoh agama seperti Gus Miftah memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi contoh dalam berbicara, mengingat banyak orang yang meniru sikap dan ucapan mereka. Oleh karena itu, penting bagi setiap tokoh untuk memastikan bahwa kata-kata yang mereka pilih tidak menyinggung perasaan orang lain, tetapi malah membawa kebaikan dan perdamaian bagi masyarakat.***
*Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Universitas Islam Negeri Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi
Editor : Wawan S











