GLOBAL- Situasi di Timur Tengah kian memanas. Iran mengancam menutup Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak global, sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serikat (AS) terhadap tiga fasilitas nuklirnya, Minggu (22/6).
Parlemen Iran, dilaporkan Axios, sudah memberikan dukungannya untuk menutup selat strategis itu. Namun, keputusan resmi akan menunggu persetujuan Dewan Keamanan Nasional Iran. Jika benar terjadi, langkah ini merupakan pertama kali diambil Iran sepanjang konflik panjangnya dengan Israel sejak 1979.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu titik paling vital dalam rantai pasokan energi dunia. Sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari — setara 20% konsumsi global — melintasi perairan sempit ini, membawa minyak dari Arab Saudi, Irak, UEA, Qatar, Iran, dan Kuwait menuju pasar dunia.
Menurut Badan Informasi Energi (EIA), dampaknya akan luar biasa, terutama terhadap negara-negara Asia seperti China, pelanggan utama minyak Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak Beijing turun tangan agar Iran menahan diri.
“Saya mendorong pemerintah China untuk berkomunikasi langsung dengan Iran, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz,” kata Rubio dalam wawancara di Fox News. Ia memperingatkan bahwa menutup selat akan menjadi “bunuh diri ekonomi” bagi Iran sendiri, sebab hampir seluruh ekspor minyaknya bergantung pada jalur laut ini.
Iran, produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari dan mengekspor 1,84 juta barel per hari bulan lalu. “Jika selat ini ditutup, arus pendapatan utama Iran ke China akan terhenti,” kata Matt Smith, analis utama di Kpler.
Sebagai dampak ketegangan ini, harga minyak global melonjak lebih dari 2% dan bisa melampaui US$100 per barel bila penutupan berlangsung lama, menurut Goldman Sachs dan firma riset Rapidan Energy.
Penulis : IB











