SINGKAWANG — Dugaan kasus keracunan yang dialami puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Kota Singkawang usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai perhatian luas.
Sejumlah siswa bahkan harus menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan di Kota Singkawang.
Program MBG tersebut disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Sinar Cahaya Khatulistiwa, yang berlokasi di Kelurahan Bukit Batu, Kecamatan Singkawang Tengah.
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala SPPG Dapur Umum Yayasan Sinar Cahaya Khatulistiwa, Maulidi Ikhsan, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para siswa dan orang tua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang tidak kita inginkan ini. Tindakan pertama yang kami lakukan adalah mendatangi langsung siswa dan orang tua yang terdampak untuk memastikan kondisi mereka, dan kami bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya perawatan maupun administrasi,” ungkap Maulidi pada minggu, (8/2/2026).
Ia menjelaskan, indikasi awal penyebab dugaan keracunan berasal dari keterlambatan proses distribusi makanan.
Biasanya pengantaran dilakukan sekitar pukul 09.00–10.00 WIB, namun saat kejadian mengalami keterlambatan hingga pukul 11.00 WIB.
“Kemungkinan menu MBG tidak langsung dikonsumsi, karena siswa menunggu usai salat Zuhur. Diduga dari situ makanan menjadi terkontaminasi. Namun, penyebab pastinya masih menunggu hasil uji laboratorium dari BPOM Provinsi,” jelasnya.
Maulidi menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, Koordinator Regional MBG Wilayah Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, juga menyampaikan permohonan maaf dan menegaskan komitmen pihaknya untuk memperbaiki sistem penyelenggaraan program MBG di Kalbar.
“Kami memohon maaf dan akan terus berupaya keras agar program MBG di Kalimantan Barat ini mencapai zero incident. Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi menu, sarana, maupun prasarana,” ujarnya.
Agus menambahkan, fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di setiap SPPG sebenarnya sudah memenuhi standar, namun masih perlu beberapa perbaikan.
Ia juga mengapresiasi peran media dalam mengawasi pelaksanaan program MBG.
“Kami berterima kasih kepada media yang telah memberitakan program MBG. Dari publikasi inilah kami bisa mengetahui kekurangan di lapangan untuk segera kami tindak lanjuti,” tutupnya.
Penulis : IB











