PEMALANG, INTAINEWS.ID– Tradisi berkirim makanan atau hantaran makanan ke tetangga menjelang bulan suci Ramadan, yang kerap dikenal dengan istilah ater-ater, kini mengalami pergeseran dan cenderung berkurang, terutama di wilayah perkotaan Kabupaten Pemalang.
Kondisi ini berbeda dengan masa lalu, ketika tradisi tersebut begitu kental dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat.
Meski demikian, tradisi menyambut datangnya bulan Ramadan di Pemalang tidak sepenuhnya hilang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nilai kebersamaan dan semangat berbagi justru mengalami transformasi dan bertahan dalam bentuk lain yang lebih menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Salah satu tradisi yang masih dijumpai hingga kini adalah Megengan, yang berasal dari kata amengan atau menahan diri.
Tradisi ini masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Pemalang yang dikenal memiliki corak kehidupan religius, sebagai penanda akan dimulainya ibadah puasa Ramadan.
Selain itu, di sejumlah pasar tradisional, Tradisi Likuran juga masih terlihat. Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, banyak pedagang yang menjajakan serabi kecil atau serabi likuran, yang menjadi salah satu makanan khas yang identik dengan bulan suci Ramadan.
Sumedi, warga Kelurahan Bojongbata, Kecamatan Pemalang, menuturkan bahwa tradisi hantaran makanan ke tetangga menjelang puasa kini mulai jarang ditemui.
Sebagai gantinya, masyarakat lebih memilih menggelar selamatan bersama di mushola atau masjid.
“Jelang Ramadan, warga membawa makanan, kebanyakan nasi bungkus, lalu diserahkan kepada pengurus mushola. Setelah terkumpul, warga berdoa bersama, kemudian makanan tersebut dibagikan kembali kepada warga,” tutur Sumedi, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, cara tersebut dinilai lebih praktis dan tetap menjaga nilai kebersamaan antarwarga.
Meskipun tidak lagi menggunakan rantang susun seperti masa lalu, semangat berbagi dan sedekah makanan tetap hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, berkurangnya tradisi hantaran makanan ke tetangga menjelang Ramadan di Pemalang lebih tepat dipahami sebagai pergeseran bentuk akibat modernisasi.
Bukan hilangnya tradisi secara total. Esensi berbagi, kebersamaan, dan persiapan spiritual menyambut Ramadan tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat hingga kini.
Penulis : Ragil
Editor : NB











