Ater-ater Tak Lagi Ramai, Begini Cara Warga Pemalang Sambut Ramadan

Selasa, 10 Februari 2026 - 16:06

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PEMALANG, INTAINEWS.ID– Tradisi berkirim makanan atau hantaran makanan ke tetangga menjelang bulan suci Ramadan, yang kerap dikenal dengan istilah ater-ater, kini mengalami pergeseran dan cenderung berkurang, terutama di wilayah perkotaan Kabupaten Pemalang.

Kondisi ini berbeda dengan masa lalu, ketika tradisi tersebut begitu kental dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat.

Meski demikian, tradisi menyambut datangnya bulan Ramadan di Pemalang tidak sepenuhnya hilang.

Nilai kebersamaan dan semangat berbagi justru mengalami transformasi dan bertahan dalam bentuk lain yang lebih menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Salah satu tradisi yang masih dijumpai hingga kini adalah Megengan, yang berasal dari kata amengan atau menahan diri.

Tradisi ini masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Pemalang yang dikenal memiliki corak kehidupan religius, sebagai penanda akan dimulainya ibadah puasa Ramadan.

Selain itu, di sejumlah pasar tradisional, Tradisi Likuran juga masih terlihat. Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, banyak pedagang yang menjajakan serabi kecil atau serabi likuran, yang menjadi salah satu makanan khas yang identik dengan bulan suci Ramadan.

Sumedi, warga Kelurahan Bojongbata, Kecamatan Pemalang, menuturkan bahwa tradisi hantaran makanan ke tetangga menjelang puasa kini mulai jarang ditemui.

Sebagai gantinya, masyarakat lebih memilih menggelar selamatan bersama di mushola atau masjid.

“Jelang Ramadan, warga membawa makanan, kebanyakan nasi bungkus, lalu diserahkan kepada pengurus mushola. Setelah terkumpul, warga berdoa bersama, kemudian makanan tersebut dibagikan kembali kepada warga,” tutur Sumedi, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, cara tersebut dinilai lebih praktis dan tetap menjaga nilai kebersamaan antarwarga.

Meskipun tidak lagi menggunakan rantang susun seperti masa lalu, semangat berbagi dan sedekah makanan tetap hidup di tengah masyarakat.

Dengan demikian, berkurangnya tradisi hantaran makanan ke tetangga menjelang Ramadan di Pemalang lebih tepat dipahami sebagai pergeseran bentuk akibat modernisasi.

Bukan hilangnya tradisi secara total. Esensi berbagi, kebersamaan, dan persiapan spiritual menyambut Ramadan tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat hingga kini.

Penulis : Ragil

Editor : NB

Follow WhatsApp Channel intainews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trotoar dan Bahu Jalan Taman Patih Sampun Dipenuhi Parkiran Motor, Warga Mengeluh
Koperasi Merah Putih Bojongbata Gelar RAT 2026, Siapkan Strategi Bangkitkan Ekonomi Desa
Satpol PP Pemalang Tertibkan PKL di Jalan Wahidin, 9 Gerobak Diamankan
Anggota DPR -RI Rizal Bawazier : Kader Partai Harus Bisa Jaga Nama Baik dan Hindari Konflik Internal – Eksternal 
Kerangka Manusia Tanpa Identitas Ditemukan di Lahan Tebu Pemalang
Mudik Nyentrik, Pria Asal Pemalang Ini Tempuh Perjalanan Pakai Kostum Predator
Bakar Sampah Ditinggal Pergi, Sebuah Rumah Beserta Traktor dan Sepeda Terbakar
Rutan Pemalang Terima Kunjungan Tim KPKNL Tegal

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 11:48

Trotoar dan Bahu Jalan Taman Patih Sampun Dipenuhi Parkiran Motor, Warga Mengeluh

Rabu, 8 April 2026 - 19:29

Koperasi Merah Putih Bojongbata Gelar RAT 2026, Siapkan Strategi Bangkitkan Ekonomi Desa

Rabu, 8 April 2026 - 19:22

Satpol PP Pemalang Tertibkan PKL di Jalan Wahidin, 9 Gerobak Diamankan

Sabtu, 4 April 2026 - 19:13

Anggota DPR -RI Rizal Bawazier : Kader Partai Harus Bisa Jaga Nama Baik dan Hindari Konflik Internal – Eksternal 

Senin, 30 Maret 2026 - 21:35

Kerangka Manusia Tanpa Identitas Ditemukan di Lahan Tebu Pemalang

Berita Terbaru

Kalimantan

Jenazah Pilot Helikopter PK-CFX Dijemput Keluarga

Sabtu, 18 Apr 2026 - 13:41

Kotamobagu

Walikota Cup Usia Dini 2026 Resmi Di Buka

Sabtu, 18 Apr 2026 - 07:35