“BENDERA BAJAK LAUT DI BULAN KEMERDEKAAN, MEMBACA SEMANGAT PERLAWANAN DARI BALIK SIMBOL FIKSI”

Selasa, 5 Agustus 2025 - 18:48

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“BENDERA BAJAK LAUT DI BULAN KEMERDEKAAN, MEMBACA SEMANGAT PERLAWANAN DARI BALIK SIMBOL FIKSI”

Oleh: Ario Gumohung (Ketua Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi HMI Cabang Gorontalo)

Setiap zaman punya simbolnya sendiri. Setiap generasi punya cara masing-masing untuk mengekspresikan diri, berbicara, dan melawan ketidakadilan sesuai dengan keadaan sosial yang mereka alami. Maka ketika menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-80, kita melihat sekelompok anak muda mengibarkan bendera Jolly Roger, bendera Bajak Laut Topi Jerami simbol fiksi dari anime One Piece. Bendera itu dipasang di tiang bendera yang biasanya digunakan untuk Sang Merah Putih, atau di bawah bendera merah putih ada juga di yang menggantungnya di belakang mobil. Hal demikian, kita tidak bisa langsung menghakimi mereka salah.

Ada yang menyebut aksi itu sebagai bentuk penghinaan terhadap negara. Ada juga yang menganggap itu karena anak muda sekarang terlalu larut dalam budaya pop. Tapi menurut saya, sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pengibaran bendera Jolly Roger bukan cuma aksi iseng tanpa arti. Itu adalah suara. Itu adalah bentuk kekecewaan. Itu adalah cara anak muda menyampaikan perlawanan karena mereka merasa tidak punya ruang yang tulus untuk menunjukkan cinta pada negara

Ada satu pertanyaan yang layak diajukan, mengapa simbol dari anime Jepang justru yang dikibarkan menjelang hari kemerdekaan? Jawabannya tidak sesederhana “anak muda kita kehilangan nasionalisme.” Yang lebih mendalam adalah bahwa anak muda kehilangan kepercayaan terhadap wajah formal nasionalisme hari ini. Sementara Merah Putih kerap digunakan dalam kampanye, baliho, dan slogan kosong elit yang rakus kekuasaan, simbol bajak laut fiksi justru terasa lebih jujur dan penuh perlawanan.

Dalam cerita One Piece, bajak laut bukan digambarkan sebagai penjahat, tapi sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekuasaan yang sewenang-wenang. Luffy dan kru Topi Jerami berani melawan penguasa yang kejam, tidak takut pada sistem yang korup, dan selalu membela orang-orang yang lemah. Semangat inilah yang diam-diam dirindukan oleh banyak anak muda Indonesia sekarang.

Saya menyadari bahwa bentuk-bentuk perlawanan sosial terus berubah. Dahulu mahasiswa melawan dengan turun ke jalan, membuat selebaran, dan menduduki gedung. Hari ini, perlawanan bisa datang dari meme, ironi, bahkan pengibaran bendera fiksi. Perlu kita sadari, budaya pop bukan hanya ruang hiburan, tapi telah menjelma menjadi ruang kontestasi makna dan simbol.

Dalam anime One Piece, dunia dibagi dalam struktur kekuasaan yang otoriter, penuh ketidakadilan, dan manipulatif. Di tengah dunia seperti itu, muncullah para bajak laut idealis yang justru mewakili suara kebenaran dan keadilan. Maka, saat bendera bajak laut dikibarkan di tanah yang katanya sudah merdeka, itu adalah panggilan moral. Apakah kemerdekaan ini sungguh adil untuk semua? Ataukah hanya menjadi panggung elitis yang melupakan rakyat.

Kita tidak sedang mengganti bendera Merah Putih. Justru kita sedang mempertanyakan, mengapa simbol-simbol negara tidak lagi mampu menggerakkan semangat? Bukan anak muda yang tidak nasionalis, tapi nasionalisme itu sendiri telah kehilangan ruhnya karena terlalu lama dibajak oleh mereka yang hanya memakainya untuk kepentingan elektoral dan seremonial.

Saya tentu tidak anti terhadap Merah Putih. Tapi saya juga tidak buta bahwa generasi saat ini lebih mudah merasa terhubung dengan simbol fiktif yang mereka rasa lebih murni, lebih adil, dan lebih membumi daripada simbol-simbol negara yang sudah kehilangan kredibilitas karena korupsi, kebohongan publik, dan ketimpangan sosial yang semakin lebar.

HMI, berperan sebagai organisasi perjuangan dan berfungsi sebagai organisasi kader, harus memposisikan diri bukan sebagai penjaga simbol kosong, tetapi sebagai pembaca zaman. Kita tidak boleh sekadar mengutuk pengibaran bendera anime sebagai “pelecehan,” tapi harus mampu mengurai kegelisahan generasi di balik simbol itu.

HMI harus hadir sebagai jembatan antara generasi tua yang mempertahankan formalitas, dan generasi baru yang sedang mencari makna. Kita tidak cukup hanya berbicara tentang cinta tanah air, tapi juga harus merekonstruksi nasionalisme menjadi sesuatu yang hidup, relevan, dan menggugah. Museum interaktif, film heroik yang membumi, pendidikan sejarah yang kreatif, semuanya menjadi bagian dari jihad kebudayaan yang harus HMI masuki.

Mungkin hari ini yang berkibar adalah bendera Topi Jerami. Tapi siapa tahu, itu hanyalah pemanasan. Mungkin, dalam waktu dekat, anak-anak muda Indonesia akan menciptakan simbol baru, lahir dari lokalitas, tapi punya kekuatan global. Sebuah simbol yang tidak perlu menunggu dijadikan undang-undang untuk dicintai. Sebuah simbol yang tidak dibajak oleh politisi, tapi lahir dari semangat rakyat.

HMI percaya bahwa setiap bentuk perlawanan yang lahir dari keresahan terhadap ketidakadilan, patut untuk didengar bahkan jika ia datang dalam bentuk bendera bajak laut. Karena sejarah bangsa ini pun dibangun bukan oleh mereka yang patuh, tapi oleh para pemberontak yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Maka jangan buru-buru menghakimi, sebelum benar-benar mendengar: suara siapa yang sedang bicara di balik bendera bajak laut itu?

Penulis : Ario Gumohung

Editor : Lan

Follow WhatsApp Channel intainews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trotoar Sepanjang Jalan Panjaitan Disulap Jadi Sentra Nongkrong Anak Muda Gorontalo
Ketum PBNU Kunjungi Gorontalo, Resmikan Kantor PWNU dan Lantik Tiga PCNU
Forum Pemuda Gorontalo Segel Kantor BSG, Desak Pemprov dan Pemkab Kota Tarik Dana dari Bank SulutGo
Dendam dan Miras Berujung Maut, Pria 29 Tahun Tewas Ditikam di Jalan Kalimantan Gorontalo
Gubernur Gorontalo Tambah Modal Rp5 Miliar ke BSG, Targetkan Dorong Kredit untuk UMKM
Proyek Ratusan Miliar Jalan Kwandang–Atinggola Amburadul, APH Didesak Turun Tangan
IAIN Sultan Amai Gorontalo Diguncang Skandal! Kampus di Ambang Krisis Kepercayaan
GARDA NKRI Tunda Aksi Unjuk Rasa, Tunggu Kepulangan DPRD Gorontalo

Berita Terkait

Selasa, 5 Agustus 2025 - 18:48

“BENDERA BAJAK LAUT DI BULAN KEMERDEKAAN, MEMBACA SEMANGAT PERLAWANAN DARI BALIK SIMBOL FIKSI”

Kamis, 26 Juni 2025 - 21:40

Trotoar Sepanjang Jalan Panjaitan Disulap Jadi Sentra Nongkrong Anak Muda Gorontalo

Kamis, 22 Mei 2025 - 21:42

Ketum PBNU Kunjungi Gorontalo, Resmikan Kantor PWNU dan Lantik Tiga PCNU

Rabu, 16 April 2025 - 16:28

Forum Pemuda Gorontalo Segel Kantor BSG, Desak Pemprov dan Pemkab Kota Tarik Dana dari Bank SulutGo

Jumat, 11 April 2025 - 18:46

Dendam dan Miras Berujung Maut, Pria 29 Tahun Tewas Ditikam di Jalan Kalimantan Gorontalo

Berita Terbaru

Kalimantan

Jenazah Pilot Helikopter PK-CFX Dijemput Keluarga

Sabtu, 18 Apr 2026 - 13:41

Kotamobagu

Walikota Cup Usia Dini 2026 Resmi Di Buka

Sabtu, 18 Apr 2026 - 07:35