Gorontalo, 26 Juni 2025. Suasana Jalan Panjaitan, Kota Gorontalo, kini tampak berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Sejak diberlakukan sistem satu jalur dari simpang Gerbang Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menuju bundaran HI oleh Pemerintah Kota, kawasan ini mulai menjelma sebagai pusat keramaian baru, khususnya di malam hari.
Trotoar di sepanjang jalan ini ramai dipenuhi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjajakan berbagai makanan dan minuman. Dari minuman kopi, teh, minuman dingin lainnya, hingga mie dan gorengan, semua tersedia bagi pengunjung yang ingin menikmati malam santai di pusat kota. Menariknya, sebagian besar pedagang maupun pengunjungnya adalah anak-anak muda.
“Kami berjualan sejak bulan Mei. Awalnya cuma nongkrong di sini, tapi karena makin ramai, akhirnya kami coba buka jualan. Menunya sederhana, makanan dan minuman angkringan,” ujar Cika, salah satu pelaku UMKM yang berjualan di trotoar Jalan Panjaitan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Cika juga menyebut bahwa keramaian tak hanya terpusat di depan Gerbang UNG seperti sebelumnya, tetapi telah meluas hingga ke area patung Saronde. Fenomena ini memantik semangat banyak anak muda untuk turut membuka usaha kecil-kecilan.
“Pelaku UMKM makin bertambah, pengunjungnya pun makin banyak. Rata-rata anak muda juga yang jualan,” tambahnya.
Kiki, pelaku UMKM lainnya, menyebutkan bahwa jenis dagangan yang dijual sangat beragam.
“Ada yang jualan kopi susu berbagai rasa, cemilan-cemilan, bahkan makanan berkuah seperti mie dan bakso. Pokoknya cocok untuk nongkrong,” tuturnya.
Tak hanya pedagang, pengunjung pun merasakan kenyamanan dan keasrian suasana malam di jalan ini.
“Saya sudah tiga kali nongkrong di sini. Rasanya asik, kita bisa menikmati suasana kota Gorontalo yang mulai hidup di malam hari,” kata Amat, salah satu pengunjung.
Yang lebih menarik, para pedagang tidak dikenakan pungutan apapun untuk berjualan di area trotoar. Mereka umumnya memanfaatkan area depan toko-toko yang tutup saat malam atau di depan rumah warga. Biaya hanya dibutuhkan jika mereka ingin menyambung listrik dari rumah warga.
“Saat ini belum ada kebijakan dari pemerintah kota soal retribusi atau biaya kebersihan. Jadi kami bisa berjualan gratis. Paling kalau mau nyambung listrik ke rumah warga, itu baru bayar,” jelas Kiki.
Fenomena UMKM Jalan Panjaitan ini menjadi contoh tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis komunitas tanpa intervensi besar dari pemerintah. Suasana yang inklusif, murah meriah, dan dikelola secara mandiri oleh warga, terutama generasi muda, menjadi wajah baru Kota Gorontalo di malam hari.
Editor : Alan











