Jakarta – Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa defisit pada 2027–2028 diprediksi sulit terealisasi.
Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuabi, menilai target tersebut terlalu ambisius di tengah laju belanja negara yang terus meningkat sementara penerimaan belum pulih sepenuhnya.
Menurut Ibrahim, dinamika fiskal saat ini menunjukkan ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Belanja pemerintah tumbuh jauh lebih cepat dibanding pemulihan pendapatan. Ruang fiskal semakin menyempit, dan itu membuat target APBN tanpa defisit menjadi sangat berat,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2025, Presiden Prabowo menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,48 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, arah kebijakan berubah beberapa bulan kemudian. Pada September, pemerintah menaikkan proyeksi defisit menjadi 2,68 persen, yang kemudian disetujui DPR dalam Undang-Undang APBN 2026.
Kenaikan defisit itu didorong oleh meningkatnya kebutuhan pembiayaan sejumlah program prioritas, seperti makan bergizi gratis bagi siswa dan penguatan koperasi desa Merah Putih.
“Jika defisit justru naik, maka mustahil mengejar target APBN nol defisit hanya dalam satu tahun,” tegas Ibrahim.
Ia menambahkan, persoalan mendasar bukan sekadar angka defisit, tetapi struktur penerimaan yang masih rapuh.
Rasio pajak terhadap PDB, yang menjadi indikator kemampuan negara mengumpulkan pendapatan, terus menurun sejak 2022 hingga 2024. Kondisi ini memperlihatkan bahwa penerimaan pajak belum cukup kuat menopang lonjakan belanja.
“Pemerintah kemungkinan besar akan kembali bergantung pada utang untuk menutup ruang fiskal. Ini bukan pilihan ideal, tapi menjadi satu-satunya cara menjaga keseimbangan anggaran,” jelasnya.
Meski defisit 2,68 persen masih berada di bawah ambang batas 3 persen sesuai Undang-Undang Keuangan Negara, Ibrahim menilai angka tersebut tidak otomatis menandakan kondisi fiskal yang sehat.
“Batas maksimal bukan berarti aman. Jika pendapatan lemah, defisit sekecil apa pun tetap menjadi beban di masa depan,” katanya.
Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti respons pasar terhadap kebijakan defisit yang dinilai sangat sensitif. Nilai tukar Rupiah sempat melemah ke level Rp16.699 per Dolar AS sebelum akhirnya menguat 43 poin ke Rp16.656 pada penutupan perdagangan Selasa. Ia memperkirakan pergerakan Rupiah pada Rabu akan fluktuatif di kisaran Rp16.650–Rp16.700 per Dolar AS.
“Pasar masih akan merespons setiap sinyal kebijakan fiskal dengan hati-hati. Stabilitas mata uang bergantung pada sejauh mana pemerintah mampu meyakinkan publik bahwa pengelolaan anggaran tetap kredibel,” tutup Ibrahim.
Penulis : IB











