MITRA, INTAINEWS.ID – Semangat gotong royong ditunjukkan para penambang emas bersama warga dan tokoh masyarakat di Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sulawesi Utara.
Mereka secara swadaya menggalang dana sekitar Rp1 miliar untuk memperbaiki sejumlah ruas jalan lingkungan yang dinilai membutuhkan perhatian.
Gerakan tersebut mendapat apresiasi dari Komite Advokasi Hukum Nasional Indonesia (KANNI).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Investigasi KANNI, Chandra E. Damopolii, menyebut inisiatif yang diberi nama “Gerakan Penambang Bangun Kampung Ratatotok” itu sebagai bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap daerah tempat mereka tinggal.
Menurut Chandra, keterlibatan para penambang dalam pembangunan kampung menunjukkan bahwa aktivitas mereka tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan ekonomi, tetapi juga disertai kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Ini bentuk kepedulian para penambang untuk membangun kampung. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi mengambil bagian secara langsung,” ujar Chandra, Sabtu (22/8/2026).
Gerakan tersebut bermula dari sejumlah pertemuan informal antara para penambang, masyarakat, dan tokoh setempat.
Dari komunikasi itu kemudian muncul kesepakatan untuk menggalang dana secara swadaya yang diperuntukkan bagi perbaikan infrastruktur jalan di sejumlah titik permukiman.
Chandra menilai gerakan tersebut penting karena masih terdapat sejumlah jalan lingkungan di Ratatotok yang membutuhkan pembenahan.
Kondisi jalan yang berlubang dan rusak dinilai dapat menghambat mobilitas masyarakat sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna kendaraan.
“Justru karena melihat kondisi di lapangan, muncul kesadaran untuk melakukan sesuatu. Ini gagasan yang positif dan patut diapresiasi,” katanya.
Dana yang berhasil dihimpun dalam gerakan tersebut diinformasikan mencapai sekitar Rp1 miliar.
Anggaran itu sebagian besar dialokasikan untuk pengerjaan jalan dengan metode hot mix maupun perbaikan atau patching di sejumlah lokasi.
Beberapa titik yang masuk dalam rencana pengerjaan meliputi akses Jalan Lakban, Simpang Tiga Lakban, Lorong Ci Mei, akses menuju SD Inpres, kawasan depan Lapangan Narato, Lapangan Narato Tengah, Simpang Tiga Perkuburan, hingga Simpang Tiga Penjual Daging.
Pelaksanaan gerakan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan stakeholder. Camat dan Kapolsek turut memberikan dukungan, sementara tokoh masyarakat Tonny Lasut dipercaya sebagai pengarah.
Tim kerja dipimpin Valdy Suak, dengan anggota Steven Mamahit, Zainal Supit, Makrun Lailamu, Allen Tarore, dan Billy Tiwow.
Bidang perencanaan dan penganggaran dikoordinasikan Deddy Rundengan, sedangkan Erwin Tumbel bertugas sebagai bendahara.
Koordinator teknis dipercayakan kepada Maspikun, sementara bidang pengawasan ditangani Imaludin Kadi. Untuk bidang informasi, koordinasi dilakukan Billy Lumintang bersama Ahmad Katili dan Tivay Nasaru.
Bagi Chandra, gerakan tersebut dapat menjadi contoh bahwa pembangunan lingkungan tidak selalu harus menunggu program dari pemerintah, tetapi juga dapat dimulai dari kepedulian masyarakat.
Kolaborasi antara warga, pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan pemerintah di tingkat lokal, kata dia, dapat mempercepat penyelesaian persoalan infrastruktur yang secara langsung dirasakan masyarakat.
“Semoga momentum ini menjadi awal gerakan yang lebih besar. Apa yang dilakukan para penambang Ratatotok bisa menjadi contoh bahwa membangun kampung adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Chandra.***
Penulis : NB
Editor : NB











