Sembilan belas tahun perjalanan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara bukan sekadar hitungan usia administratif sebuah daerah.
Ia adalah perjalanan panjang tentang harapan, perjuangan, dan cita-cita masyarakat yang ingin melihat pelayanan lebih dekat, pembangunan lebih merata, serta masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyat di wilayah utara tanah Bolaang Mongondow.
Momentum hari ulang tahun daerah sejatinya bukan hanya ruang perayaan, tetapi juga saat yang tepat untuk melakukan refleksi bersama. Sebab sebuah daerah tidak cukup hanya bertambah umur, tetapi juga harus bertambah matang dalam menghadirkan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai daerah yang membentang panjang dari Sangkub hingga Pinogaluman, Boltara memiliki tantangan geografis yang tidak sederhana.
Kondisi ini menghadirkan pekerjaan besar dalam pemerataan pembangunan, pelayanan publik, akses pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur dasar.
Masih ada masyarakat yang merasa jauh dari pusat pelayanan, masih ada jalan yang membutuhkan perhatian serius, dan masih banyak anak muda yang menunggu kesempatan kerja serta ruang berkembang di daerahnya sendiri.
Namun kritik terhadap kondisi tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai pesimisme. Kritik adalah bentuk kepedulian dan cinta terhadap daerah. Daerah yang sehat adalah daerah yang mau mendengar suara rakyatnya sendiri.
Pembangunan tidak boleh hanya terlihat di pusat keramaian, tetapi harus benar-benar dirasakan hingga ke desa-desa dan wilayah terluar.
Di tengah perjalanan itu, falsafah daerah “Mototabiana, Mopopiana gu Mononantobana” menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat Boltara.
Filosofi ini bukan sekadar slogan seremonial, melainkan pandangan hidup tentang kebersamaan, saling menguatkan, saling memperbaiki, dan saling menopang demi kehidupan masyarakat yang lebih kokoh.
Nilai tersebut terasa sangat relevan hari ini. Membangun Boltara tidak mungkin dilakukan hanya oleh satu kelompok atau satu generasi.
Ia membutuhkan persatuan antara pemerintah dan rakyat, antara tokoh agama, tokoh adat, akademisi, Ormas, OKP, dan seluruh elemen masyarakat. Sebab kekuatan terbesar daerah bukan hanya terletak pada sumber daya alamnya, tetapi pada kemampuan masyarakatnya untuk tetap bersatu di tengah tantangan.
Ke depan, Boltara membutuhkan arah pembangunan yang benar-benar berpihak kepada rakyat. Petani harus mendapatkan dukungan agar tetap mampu menjaga ketahanan pangan daerah.
Nelayan membutuhkan perlindungan dan fasilitas yang memadai. UMKM dan pelaku usaha lokal harus diberikan ruang tumbuh agar ekonomi rakyat semakin kuat dan mandiri.
Demikian pula bagi generasi muda.
Pelajar, mahasiswa, dan pencari kerja adalah wajah masa depan daerah ini. Mereka membutuhkan akses pendidikan yang baik, ruang kreativitas, peluang kerja, dan keyakinan bahwa mereka bisa membangun kehidupan yang layak tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
Peran organisasi masyarakat dan kepemudaan juga sangat penting dalam perjalanan daerah. Ormas dan OKP bukan sekadar pelengkap seremoni, tetapi bagian dari kekuatan moral dan sosial masyarakat.
Dari ruang-ruang organisasi lahir gagasan, kritik, kaderisasi, dan semangat pengabdian. Ketika organisasi tetap menjaga idealisme dan kedekatannya dengan rakyat, maka ia akan menjadi mitra strategis pembangunan daerah yang sehat dan berkeadaban.
Hal yang sama berlaku bagi para anggota DPRD dan seluruh politisi daerah. Politik tidak boleh berhenti hanya pada hitung-hitungan elektoral. Politik harus memiliki kepekaan sosial terhadap kondisi rakyat.
Wakil rakyat harus memahami secara nyata persoalan kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, hingga ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan masyarakat.
Karena sejatinya mandat politik bukan hanya memenangkan suara, tetapi memperjuangkan kehidupan rakyat agar lebih bermartabat. Ketika politik kehilangan empati terhadap masyarakat kecil, maka demokrasi hanya menjadi rutinitas lima tahunan tanpa makna keadilan yang sesungguhnya.
Pada momentum usia ke-19 ini, masyarakat juga menaruh harapan besar kepada Bupati dan Wakil Bupati sebagai pemimpin daerah.
Kepemimpinan hari ini bukan hanya tentang menjalankan pemerintahan secara administratif, tetapi tentang menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat dari ujung Sangkub hingga Pinogaluman.
Rakyat berharap pemimpin daerah mampu menjadi pengayom bagi semua golongan, mendengar suara masyarakat kecil, serta menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan jangka panjang daerah. Boltara membutuhkan kepemimpinan yang visioner, humanis, dan mampu menyatukan seluruh potensi daerah.
Di momentum ini pula, sudah sepantasnya masyarakat memberikan penghormatan kepada para presidium, tokoh pemekaran, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh pejuang yang telah melahirkan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Dengan segala keterbatasan pada masanya, mereka menanam cita-cita besar agar daerah ini memiliki jalan masa depannya sendiri.
Bagi para pejuang yang telah mendahului, semoga Allah SWT menerima seluruh amal pengabdian mereka dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan bagi para tokoh yang masih bersama hari ini, semoga diberikan kesehatan dan umur panjang karena telah menjadi bagian penting dalam sejarah daerah ini.
Sebab sebuah daerah tidak pernah lahir begitu saja. Ia dibangun oleh pengorbanan, kesabaran, dan keyakinan banyak orang yang mungkin tidak tercatat dalam sejarah, tetapi jasanya tetap hidup dalam perjalanan Boltara hingga hari ini.
Usia 19 tahun ini seharusnya menjadi momentum memperkuat kepercayaan antara pemerintah dan rakyat. Sebab daerah akan maju bukan hanya karena kekuasaan, tetapi karena adanya rasa saling percaya dan keinginan bersama untuk membangun tanah kelahiran dengan hati yang tulus.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-19 Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Semoga “Mototabiana, Mopopiana gu Mononantobana” tidak hanya menjadi motto yang diucapkan, tetapi benar-benar hidup dalam sikap dan arah pembangunan daerah ini: saling menguatkan, saling memperbaiki, dan saling menopang demi masa depan Boltara yang lebih adil, maju, dan bermartabat.
Penulis:
Imaaduddiyn Guhung S.Fil.I
Ketua IKA-PMII Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
Penulis : IB











