IntaiNews.id, BOLTIM – Ada pemandangan istimewa pada perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di kediaman keluarga Rahman Salehe – Salsabilah Mamonto di Desa Bulawan II, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara.
Pada hari kedua penyembelihan hewan kurban, keluarga Rahman Salehe mempercayakan kepanitiaan kepada seorang warga non-Muslim asal Desa Paret Timur, Benny Lapod.
Langkah tersebut menjadi bukti nyata nilai toleransi dan kebersamaan yang terus hidup di tengah masyarakat Bolaang Mongondow Timur. Tanpa memandang perbedaan keyakinan, Benny Lapod dipercaya memimpin jalannya penyembelihan hewan kurban sebagai ketua panitia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rahman Salehe mengatakan, keputusan menunjuk Benny Lapod bukanlah sesuatu yang dilakukan secara kebetulan. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk nyata penghormatan terhadap keberagaman serta semangat persaudaraan antarumat beragama yang selama ini terjaga dengan baik di Boltim.
“Di sini ada juga dari kalangan non-Muslim yang tergabung dalam panitia pelaksana,” ujar Rahman Salehe.
Baginya, ibadah kurban bukan hanya ritual keagamaan semata, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan rasa saling menghormati di tengah masyarakat yang majemuk.
Apa yang dilakukan Rahman Salehe dan keluarga menjadi pesan kuat bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan komitmen yang diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Benny Lapod mengaku kaget sekaligus terharu saat dipercaya menjadi ketua panitia penyembelihan hewan kurban.
Ia tidak menyangka akan memimpin kegiatan keagamaan umat Muslim, namun menerima amanah tersebut dengan penuh rasa hormat.
“Saya memang sering bergaul dan berkegiatan bersama masyarakat di sini. Ketika ditunjuk oleh Pak Rahman, saya menerima dengan senang hati,” ungkap Benny.
Benny mengaku bangga bisa terlibat langsung dalam kegiatan kurban bersama keluarga Rahman Salehe. Menurutnya, kebersamaan seperti ini membuktikan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk saling menghormati, membantu, dan bekerja sama.
“Saya senang bisa ikut terlibat dalam kegiatan seperti ini. Semoga semangat toleransi yang ada di Bolaang Mongondow Timur terus terjaga,” tuturnya.
Aksi yang dilakukan Rahman Salehe bersama keluarga menjadi cerminan bahwa keharmonisan antarumat beragama di Boltim tetap terpelihara dengan baik. Mereka memilih merangkul, bukan memisahkan; menyatukan, bukan membedakan.
Kegiatan penyembelihan hewan kurban yang dipimpin oleh ketua panitia non-Muslim ini diharapkan menjadi inspirasi bagi banyak pihak bahwa perbedaan adalah anugerah. Momentum keagamaan pun dapat menjadi ruang mempererat silaturahmi dan memperkuat persaudaraan.
Peran Benny Lapod dalam kegiatan tersebut bukan sekadar menjalankan tugas kepanitiaan, tetapi menjadi simbol bahwa persaudaraan dan kemanusiaan mampu menembus batas-batas perbedaan keyakinan.***











