INTAINEWS.id, — Ironi menyelimuti peringatan Hari Jadi Kabupaten Pemalang ke-451 yang jatuh pada Jumat, 24 Januari 2026.
Di saat jajaran Pemerintah Kabupaten menggelar upacara peringatan di kawasan kota, wilayah selatan Pemalang justru dilanda bencana banjir bandang akibat curah hujan tinggi yang mengguyur selama beberapa hari terakhir.
Banjir bandang yang membawa material lumpur dan glondongan kayu itu menerjang dua kecamatan, yakni Pulosari dan Moga. Sedikitnya lima desa terdampak cukup parah akibat bencana ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Camat Pulosari, Arif Senoaji, mengungkapkan tiga desa di wilayahnya mengalami dampak banjir bandang, yaitu Desa Penakir, Nyalembeng, dan Gunungsari.
“Ada tiga desa yang terdampak. Paling parah di Desa Penakir karena ada delapan rumah warga yang terbawa banjir,” jelasnya, Jumat (24/1/2026).
Sementara di Kecamatan Moga, dua desa yang terdampak adalah Desa Sima dan Pepedan.
Menurut Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Kasi Trantib) Kecamatan Moga, Imam Fahrudin, puluhan rumah warga di dua desa tersebut mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
“Kami mendata ada 33 rumah rusak di Desa Sima, terutama di Dusun Gintung dan Tretep. Kemudian di Desa Pepedan ada dua rumah rusak,” ujarnya.
Pihak kecamatan bersama aparat desa dan warga telah melakukan pendataan awal terhadap korban terdampak, sekaligus menyalurkan bantuan darurat.
Di lokasi kejadian, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang tampak siaga membantu proses evakuasi warga serta pembersihan material banjir.
Banjir bandang ini menjadi pengingat bahwa di tengah euforia peringatan hari jadi daerah, bencana alam bisa datang tanpa mengenal waktu, dan sinergi semua pihak dibutuhkan untuk memulihkan wilayah terdampak.
(Ragil)
Penulis : Ragil











