PEMALANG, INTAINEWS.ID – Bermodalkan ketekunan dan semangat ingin membantu sesama, Taryono (28), warga Desa Danasari, Kecamatan Pemalang, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tak menjadi halangan untuk sukses dan berbagi.
Sejak tahun 2017, ia mendirikan Gerai Pijat Mas Tar, yang kini tak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga wadah pemberdayaan bagi penyandang disabilitas sensorik netra lainnya.
“Saya punya pikiran, gak mungkin selamanya kerja sama orang. Saya ingin bantu sesama saya, penyandang disabilitas netra. Jadi saya resign dan nekat buka usaha sendiri,” ujar Taryono saat ditemui di gerainya, Senin (16/6/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Taryono, anak ke-4 dari 7 bersaudara, lima di antaranya juga menyandang disabilitas netra, mengenal dunia pijat refleksi sejak mengikuti pelatihan di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB) Pemalang pada 2015.
Berkat ketekunan, ia menjadi salah satu peserta berprestasi, dan hanya dua tahun setelahnya, memberanikan diri membuka usaha mandiri.
Dengan menyewa kios ruko seharga Rp6 juta per tahun, dan memanfaatkan lahan parkir yang cukup luas, Gerai Pijat Mas Tar berkembang pesat.
Ia tak hanya menawarkan layanan pijat refleksi, tapi juga menjual sembako.
“Rata-rata sehari dapat 10 pelanggan pijat, bisa menghasilkan Rp500 ribu. Ditambah penjualan sembako, total omzet harian bisa Rp1 juta. Jadi sebulan bisa Rp30 juta,” ungkapnya.
Tak hanya fokus pada keuntungan pribadi, Taryono memiliki cita-cita sosial: memperluas usahanya agar bisa merekrut lebih banyak penyandang disabilitas netra yang belum memiliki pekerjaan.
“Harapan saya, gerai ini bisa diperluas agar bisa merekrut teman-teman netra. Kalau saudara, saya dorong biar punya kios masing-masing. Saya lebih fokus bantu teman-teman yang masih belum bekerja,” ucapnya.
Hingga kini, tiga dari lima saudaranya ikut membantu di gerai, sementara dua lainnya telah mulai membuka layanan sendiri.
Taryono pun rutin memotivasi rekan-rekannya untuk terus mengasah kemampuan pijat mereka, agar kelak mampu membuka usaha sendiri.
“Saya sering himbau teman-teman agar pijatnya lebih dimaksimalkan. Kalau pelanggan banyak, mereka bisa mandiri juga,” tutupnya dengan semangat.
Kisah Taryono menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari harapan.
Dengan tekad, kerja keras, dan kepedulian sosial, keterbatasan dapat diubah menjadi kekuatan untuk menata masa depan.
Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi komunitas yang lebih luas.
Penulis : Rgl
Editor : NB









