Palima Solagu Pimpin Rombongan Tinggalkan Mokapog Menuju Timur
Sejarah Kerajaan Bintauna bermula dari perpecahan wilayah di Mokapog pasca kepergian Pangulu Datu Binangkal sekitar abad ke-17.
.Seorang tokoh berpengaruh bernama Solagu memimpin sekelompok penduduk yang menolak pindah ke Kaidipang maupun turun ke Sonuo. Rakyat dari lereng barat Gunung Kabila, Molibagu, Doluduo, dan Dumoga mencintai Solagu karena kebijaksanaan, ketangkasan, dan kejujurannya. Mereka mengangkat Solagu sebagai Palima Solagu pendiri Bintauna, pemimpin yang akan mengantar mereka ke tanah baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Catatan ini bersumber dari tulisan tangan almarhum Abo Arifin N Pontoh, hasil wawancara beliau dengan Alm. Abo Jogugu Poeloe Datunsolang dan Alm. Abo Datoe Datunsolang di Bintauna. Hikayat ini menyimpan nilai sejarah yang tak ternilai bagi masyarakat Bintauna dan Sulawesi Utara. Oleh karena itu, penting untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan warisan lisan ini kepada generasi muda. Asal usul nama Bintauna tersimpan rapi dalam perjalanan panjang yang penuh makna tersebut.
Setelah mengangkat Solagu sebagai Palima, rombongan bergerak ke arah timur meninggalkan Mokapog. Mereka menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer tanpa kepastian tujuan yang jelas. Para tetua dalam rombongan mulai mempertanyakan kapan dan di mana mereka akan berhenti untuk membangun negeri baru. Pertanyaan itu terjawab pada sebuah malam yang mengubah sejarah Kerajaan Bintauna selamanya.
Seruan “Bintang Ona-Ona” Lahirkan Nama Bintauna yang Abadi
Pada suatu malam, seorang tetua berseru nyaring dalam bahasa leluhur mereka: “Po’ontonge bintang ona-ona iye, onda poberentia nota, otuntua ponaka no lipu.” Artinya kurang lebih: “Lihat baik-baik bintang di depan, di mana dia berhenti, di situ kita bangun negeri.” Seruan itu langsung membakar semangat seluruh rombongan yang sudah berjalan jauh meninggalkan kampung halaman. Dengan demikian, bintang menjadi kompas spiritual yang menentukan takdir asal mula negeri Bintauna.
Rombongan berhenti melangkah ketika bintang pemandu itu akhirnya berdiam di satu titik. Mereka meyakini lokasi itu sebagai tanah pilihan yang harus mereka tempati dan bangun menjadi negeri. Selanjutnya, seluruh warga bergotong royong menebas hutan lebat di lokasi tersebut. Di atas lahan yang baru dibuka itulah Dotu Solagu raja pertama Bintauna memulai peradaban baru yang bertahan berabad-abad.
Dari frasa “bintang ona-ona” dalam seruan bersejarah itu, lahirlah nama Bintauna yang kita kenal hingga hari ini. Nama Solagu sendiri berarti “besar” dalam bahasa leluhur mereka, mencerminkan statur kepemimpinannya di mata rakyat. Rombongan kemudian mengangkat Solagu sebagai raja dengan gelar Dotu Solagu, di mana “Dotu” berarti Raja. Gelar itu kemudian berkembang dan lebih dikenal luas dengan nama Datunsolang dalam hikayat Bintauna Datunsolang.
Dinasti Datunsolang Memerintah hingga 1950, Komalig Berpindah Tiga Kali
Keturunan Raja Datunsolang memegang tampuk kekuasaan Kerajaan Bintauna Sulawesi Utara secara turun-temurun selama berabad-abad. Raja terakhir yang memerintah adalah Paduka Tuan Raja M. Toraju Datunsolang, yang masa pemerintahannya berakhir pada tahun 1950. Dengan demikian, dinasti ini mencatat salah satu pemerintahan monarki terpanjang di kawasan Sulawesi Utara. Riwayat Kerajaan Bintauna ini menjadi bagian penting dari mozaik sejarah nusantara yang perlu dilestarikan.
Raja Datunsolang pertama kali membangun pusat kerajaan yang disebut Komalig di hulu Huntuk, tepat di belahan hulu Sungai Bintauna Pante. Lembah di sekitarnya dikenal dengan sebutan “gambut inlanga” bersama wilayah Biau dan perbukitan di sekelilingnya. Namun, demi memperlancar jalur komunikasi dan transportasi laut, Komalig kemudian berpindah ke Bintauna Pante. Selanjutnya, banjir yang kerap melanda memaksa pemindahan ketiga Komalig ke wilayah Pimpi.
Nasib tragis menimpa Komalig di masa pergolakan PRRI/Permesta, ketika bangunan bersejarah itu hangus terbakar akibat taktik bumi hangus. Api melenyapkan fisik bangunan, namun tidak mampu memadamkan legenda berdirinya Bintauna yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Cerita rakyat Bintauna Bolaang Mongondow ini tetap mengalir dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Warisan lisan ini kini mendapat ruang untuk diabadikan dalam bentuk tulisan agar tidak hilang ditelan zaman. (Sumber: Waktu.news)
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan hasil rekonstruksi editorial dari catatan tulisan tangan Alm. Abo Arifin N Pontoh berdasarkan wawancara dengan Alm. Abo Jogugu Poeloe Datunsolang dan Alm. Abo Datoe Datunsolang di Bintauna. Redaksi menjaga keutuhan isi hikayat sebagai sumber sejarah lokal.
Penulis : Ismanto Buhang











