GORONTALO – Di sela-sela kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026, peserta Kontingen Jawa Tengah memanfaatkan waktu luang untuk berburu berbagai produk unggulan khas Gorontalo.
Mulai dari kain dan busana Karawo hingga Kopia Karanji, semuanya menjadi incaran peserta sebagai buah tangan untuk keluarga dan kerabat di kampung halaman.
Salah seorang peserta Kontingen Jawa Tengah, Anang Purnomo, mengaku terkesan dengan kualitas dan keunikan produk-produk lokal Gorontalo. Menurutnya, berbelanja oleh-oleh khas daerah merupakan bagian dari pengalaman berharga selama mengikuti PENAS XVII di Gorontalo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Karawo sangat khas dan memiliki nilai seni yang tinggi. Begitu juga Kopia Karanji yang bentuknya yang unik dan cocok dijadikan oleh-oleh. Kami senang bisa membawa pulang produk-produk unggulan Gorontalo,” ujar Anang Kepada media ini Selasa (23/6/2026).
Ia menambahkan, membeli produk UMKM lokal bukan sekadar berbelanja, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pelaku usaha masyarakat setempat yang terus berupaya mengembangkan produk daerah.
Kehadiran ribuan peserta PENAS XVII dari berbagai provinsi di Indonesia memberikan dampak positif bagi perputaran ekonomi masyarakat Gorontalo.
Sejumlah sentra kerajinan Karawo, pusat oleh-oleh, hingga pelaku UMKM kuliner terlihat ramai dikunjungi peserta yang ingin membawa pulang produk khas daerah.
Meningkatnya aktivitas belanja oleh para peserta diharapkan dapat memperluas promosi produk unggulan Gorontalo ke berbagai daerah di Indonesia.
Kopia Karanji sebagai warisan budaya khas Gorontalo dan Kharawo sebagai produk busana unggulan menjadi bukti kekayaan daerah yang mampu menarik perhatian para tamu dari luar daerah.
Melalui pembelian produk-produk lokal tersebut, Kontingen Jawa Tengah tidak hanya membawa pulang kenang-kenangan dari Gorontalo, tetapi juga turut membantu memperkenalkan budaya, kerajinan, dan kuliner daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
PENAS XVII pun tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu dan inovasi di bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui promosi dan pemasaran produk UMKM lokal.
Penulis : IB










