LIMBOTO – Rembug Utama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tahun 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo berlangsung penuh semangat kebersamaan dan gagasan strategis untuk kemajuan sektor pertanian dan perikanan Indonesia.
Forum yang mempertemukan pengurus KTNA dari berbagai daerah di Indonesia tersebut dihadiri sejumlah tokoh KTNA asal Jawa Tengah. Mereka adalah Ketua KTNA Provinsi Jawa Tengah Ahmad Sofyan, Ketua KTNA Kabupaten Grobogan Hardiono, Ketua KTNA Kota Salatiga Munaji, serta Ketua KTNA Kabupaten Brebes Juwari.
Kehadiran para pimpinan KTNA Jawa Tengah menjadi bukti komitmen dalam memperkuat peran organisasi petani dan nelayan sebagai mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rembug Utama KTNA menjadi wadah untuk bertukar pengalaman, menyampaikan aspirasi, serta merumuskan berbagai rekomendasi yang akan menjadi bahan masukan bagi pembangunan pertanian dan perikanan di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, yang membuka secara resmi kegiatan Rembug Utama KTNA 2026, menegaskan bahwa petani dan nelayan merupakan garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan kehidupan bangsa.
“Petani dan nelayan sesungguhnya adalah penjaga kelestarian bangsa. Merekalah yang memastikan masyarakat tetap dapat makan dan menjaga stabilitas ekonomi pedesaan. Oleh karena itu, saya berharap Rembug Utama ini dapat menghasilkan rekomendasi yang konstruktif, visioner, dan bermanfaat bagi masa depan pertanian dan perikanan Indonesia,” ujar Idah.
Menurutnya, melalui forum tersebut diharapkan lahir berbagai gagasan inovatif yang mampu menjawab tantangan sektor pertanian dan perikanan, mulai dari perubahan iklim, regenerasi petani, hingga peningkatan kesejahteraan pelaku utama di lapangan.
Sementara itu, Ketua KTNA Kabupaten Grobogan, Hardiono, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan PENAS XVII di Gorontalo. Ia menyebut keramahan masyarakat serta kesiapan daerah menjadi nilai lebih yang membuat Gorontalo berbeda dari pelaksanaan PENAS sebelumnya.
“Saya sudah enam kali mengikuti PENAS. Namun menurut saya, Gorontalo menjadi salah satu tuan rumah terbaik. Orang-orangnya ramah, situasinya nyaman, bahkan sejak penyambutan di bandara kami sudah merasakan pelayanan yang luar biasa,” ungkap Hardiono.
Ia berharap hasil pembahasan dalam Rembug Utama KTNA tidak berhenti sebatas diskusi, tetapi dapat diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak kepada petani dan nelayan.
Melalui PENAS XVII, Gorontalo tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya ribuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi ruang lahirnya ide, inovasi, dan komitmen bersama untuk memperkuat ketahanan pangan serta memajukan sektor pertanian dan perikanan nasional.
Penulis : IB











