Abreaksi dan Kesurupan: Dua Fenomena Serupa tapi Tak Sama

Kamis, 9 Oktober 2025 - 09:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah kesurupan ketika seseorang tiba-tiba kehilangan kesadaran, berbicara tidak seperti biasanya, atau berperilaku di luar kendali. Namun, di dunia psikologi dikenal juga istilah abreaksi, yang sekilas tampak mirip dengan kesurupan karena sama-sama melibatkan luapan emosi yang intens. Meski demikian, keduanya memiliki makna dan penyebab yang sangat berbeda.

Apa Itu Abreaksi?

Abreaksi berasal dari dunia psikologi, khususnya dalam teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Istilah ini merujuk pada pelepasan emosi yang terpendam akibat pengalaman traumatis di masa lalu. Emosi yang lama ditekan akhirnya muncul ke permukaan, biasanya dalam bentuk tangisan, teriakan, atau ekspresi emosional yang kuat.

Seseorang bisa mengalami abreaksi ketika sedang menjalani terapi psikologis, berada dalam kondisi stres berat, atau terpicu oleh situasi yang mengingatkannya pada trauma lama.
Yang terjadi bukanlah kerasukan roh, melainkan reaksi batin terhadap luka emosional yang belum terselesaikan.

Menariknya, setelah abreaksi berlalu, orang yang mengalaminya sering kali merasa lega dan tenang, seolah beban yang lama dipikul akhirnya terlepas.

Lalu, Apa Itu Kesurupan?

Berbeda dengan abreaksi, kesurupan lebih dikenal dalam konteks spiritual dan budaya. Fenomena ini digambarkan sebagai keadaan di mana seseorang diyakini dimasuki atau dikendalikan oleh roh, arwah, atau entitas gaib.

Kesurupan sering terjadi di tempat-tempat yang dianggap keramat, saat upacara adat, atau dalam situasi emosional yang tinggi seperti ketakutan massal.
Secara ilmiah, kondisi ini dapat dikaitkan dengan gangguan disosiatif, yakni keadaan di mana kesadaran seseorang terpisah sementara dari realitas karena stres, sugesti kelompok, atau keyakinan tertentu.

Orang yang mengalami kesurupan biasanya tidak mengingat apa yang terjadi selama peristiwa itu. Setelah sadar, mereka kerap merasa lelah, pusing, atau kebingungan, berbeda dengan abreaksi yang justru memberikan rasa lega.

Abreaksi vs Kesurupan: Di Mana Bedanya?

Aspek Abreaksi Kesurupan

Asal konsep Psikologi (psikoanalisis) Budaya dan spiritual
Penyebab utama Trauma emosional atau konflik batin Keyakinan terhadap roh atau sugesti kelompok
Kondisi kesadaran Masih ada kesadaran, meski emosional Kehilangan kesadaran dan identitas berubah
Akibat setelahnya Merasa lega dan lebih tenang Merasa lelah, bingung, atau tidak ingat kejadian
Penanganan Psikoterapi atau konseling Bisa melalui doa, ritual, atau penanganan medis

Kesimpulan

Abreaksi dan kesurupan memang tampak serupa karena keduanya menunjukkan perubahan perilaku dan emosi yang ekstrem. Namun, jika dilihat lebih dalam, perbedaan mendasar terletak pada sumber penyebab dan maknanya.

Abreaksi merupakan fenomena psikologis, hasil dari konflik batin atau trauma yang belum terselesaikan. Sementara kesurupan adalah fenomena kultural atau spiritual, yang berkaitan erat dengan keyakinan terhadap dunia gaib.

Pemahaman yang tepat terhadap kedua fenomena ini penting agar kita tidak salah menilai. Dalam situasi tertentu, orang yang tampak “kesurupan” bisa saja sedang mengalami abreaksi emosional — dan sebaliknya, kejadian spiritual bisa tampak seperti gejala psikologis.

Yang paling penting, setiap kejadian tetap perlu ditangani dengan **empati, pemahaman, dan pendekatan yang sesuai

Penulis : IB

Follow WhatsApp Channel intainews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

7 Minuman Pengganti Kopi di Pagi Hari yang Bantu Turunkan Berat Badan
Air Garam, Obat Sederhana dengan Segudang Manfaat Kesehatan
Desa Tuntung Sabet Sejumlah Penghargaan Bergengsi di Peringatan HKN ke-61
Bupati Sirajuddin Lasena Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-61 di Boltara
Diana Pungky Ungkap Rahasia Awet Muda di Usia 51 Tahun: “Aku Cuma Rajin Perawatan, Bukan Oplas
Pemerintah Siapkan Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan Mulai 2026, Target Aturan Rampung November 2025
Vitamin untuk Lansia Bantu Jaga Kesehatan dan Kebugaran di Usia Senja
RSUD Mayjen H.A. Thalib Terus Berbenah, Tegakkan Semangat 3S dan Nilai Pancasila

Berita Terkait

Selasa, 18 November 2025 - 13:51

7 Minuman Pengganti Kopi di Pagi Hari yang Bantu Turunkan Berat Badan

Minggu, 16 November 2025 - 08:02

Air Garam, Obat Sederhana dengan Segudang Manfaat Kesehatan

Rabu, 12 November 2025 - 15:40

Desa Tuntung Sabet Sejumlah Penghargaan Bergengsi di Peringatan HKN ke-61

Rabu, 12 November 2025 - 09:38

Bupati Sirajuddin Lasena Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-61 di Boltara

Jumat, 7 November 2025 - 08:57

Diana Pungky Ungkap Rahasia Awet Muda di Usia 51 Tahun: “Aku Cuma Rajin Perawatan, Bukan Oplas

Berita Terbaru