LIMBOTO, – Bupati Gorontalo Sofyan Puhi mengapresiasi kreativitas dan semangat anak-anak peserta Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang dinilainya memiliki potensi besar dalam mengembangkan seni sekaligus melestarikan kebudayaan daerah.
“Kalian hebat dan luar biasa,” ujar Sofyan Puhi saat menghadiri Gelar Karya GSMS yang dirangkaikan dengan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kabupaten Gorontalo Tahun 2026 di Taman Budaya Limboto, Senin (27/10/2026).
Menurut Sofyan, GSMS merupakan salah satu langkah strategis untuk memperkuat ekosistem kebudayaan daerah melalui kolaborasi antara seniman dan dunia pendidikan. Program ini membuka ruang bagi peserta didik untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkan bakat seni sejak dini dengan bimbingan langsung dari para seniman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui program tersebut, potensi seni di lingkungan sekolah dapat dikembangkan secara lebih terarah. Kreativitas siswa pun mendapat ruang untuk tumbuh, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni dan budaya lokal.
“Sehingga pemberdayaan, penguatan, serta pengembangan kebudayaan di bidang seni bisa disatukan, dipadukan, dan kita kembangkan,” ungkapnya.
Sofyan menegaskan, pelestarian kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan seni pertunjukan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan bahasa daerah sebagai identitas dan warisan leluhur. Karena itu, pelaksanaan GSMS yang dirangkaikan dengan FTBI menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan sendiri.
Dia menyoroti tantangan penggunaan bahasa daerah di tengah perkembangan zaman dan perubahan kebiasaan komunikasi masyarakat. Bahasa Gorontalo, bersama bahasa daerah lainnya seperti Suwawa, Atinggola, dan Bolaang Mongondow, merupakan kekayaan budaya yang perlu dijaga agar tidak semakin ditinggalkan oleh generasi muda.
Menurut dia, upaya pelestarian bahasa ibu perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, lingkungan keluarga, serta berbagai kegiatan yang mendorong anak-anak untuk belajar dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui lomba-lomba ini, kita berharap kecintaan terhadap bahasa Gorontalo dapat tumbuh sejak dini, sehingga generasi muda memiliki kemampuan dan kemauan untuk terus menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dia berharap sinergi pemerintah daerah, seniman, sekolah, dan keluarga semakin kuat dalam membangun lingkungan yang mendukung perkembangan seni serta penggunaan bahasa daerah. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan festival, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan kebanggaan masyarakat.
Pada kesempatan itu, Sofyan juga menyampaikan selamat kepada para pemenang FTBI serta seluruh peserta yang telah menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka. Baginya, keberanian anak-anak untuk tampil, belajar, dan berkarya merupakan modal penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan daerah.
Gelar karya tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para siswa untuk menunjukkan hasil pembelajaran seni bersama para seniman. Sementara itu, penganugerahan FTBI memberikan penghargaan kepada peserta berprestasi yang telah berupaya mengembangkan kemampuan berbahasa daerah.
Sofyan berharap, melalui kegiatan ini, generasi muda Kabupaten Gorontalo semakin percaya diri mengembangkan bakat, mencintai budaya sendiri, dan menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman.
Baginya, anak-anak bukan hanya penerus kebudayaan, melainkan juga generasi yang memiliki peran penting dalam memastikan seni dan bahasa daerah tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis : Ib











