Boltara — Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI) mengadakan pelatihan jurnalistik berbasis standar kompetensi kerja di Sekretariat SPRI Cabang Bolaang Mongondow Utara, Senin (29/12/2025).
Kegiatan ini menghadirkan langsung Ketua Umum SPRI sekaligus Ketua LSP Pers Indonesia, Heintje Grontson Mandagi, sebagai pemateri utama.
Pelatihan berlangsung selama tiga jam, dengan format intensif dan interaktif yang diikuti antusias oleh para anggota SPRI Bolmut. Materi dirancang agar aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan wartawan di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fokus pada Kompetensi dan Etika Profesi
Dalam pemaparan awal, Mandagi memberikan presentasi teori selama 90 menit, membahas standar kompetensi kerja wartawan, kode etik jurnalistik, serta praktik penulisan berita profesional.
Ia menekankan pentingnya wartawan memahami dasar-dasar kerja jurnalistik agar mampu menghasilkan karya yang bermutu dan berintegritas.
Setelah sesi teori, peserta mengikuti praktik lapangan selama 60 menit, di mana mereka berlatih menyusun berita dengan cepat dan tepat.
Kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi reflektif selama 30 menit, yang memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan tantangan yang dihadapi dalam pekerjaan sehari-hari.
Pemanfaatan AI dalam Dunia Jurnalistik
Salah satu peserta, Maya Ruata, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut membuka wawasan baru, terutama terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam kerja jurnalistik.
“Materi AI ini sangat membantu kami dalam mempercepat kerja di lapangan. Tapi kami juga diingatkan untuk tidak bergantung penuh pada teknologi dan tetap menjaga profesionalitas,” ujarnya.
Menurut Maya, pemanfaatan teknologi seharusnya mendukung kinerja wartawan, bukan menghilangkan nilai-nilai dasar profesi seperti kejujuran, keakuratan, dan tanggung jawab sosial.
Menutup kegiatan, Heintje Mandagi menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat jurnalis kehilangan jati diri.
“AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti akal sehat, nurani, dan tanggung jawab wartawan,” tegasnya.
Ia menambahkan, integritas, etika, dan kompetensi harus tetap menjadi pilar utama dalam menjalankan profesi jurnalis, di tengah pesatnya perubahan teknologi informasi.
“Teknologi boleh maju, tetapi moral dan profesionalitas jurnalis tidak boleh menurun,” katanya menegaskan.
Mandagi berharap pelatihan semacam ini terus dilakukan secara berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas pers daerah, terutama di Bolaang Mongondow Utara, agar mampu menghadirkan berita yang akurat, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik.
Penulis : IB











