Manado – Di tengah Kota Manado, tepatnya di kawasan Klenteng Perempatan Kampung Cina, malam hari kini menyuguhkan suasana yang berbeda. Area yang hanya dilintasi kendaraan pada siang dan malam harinya, kini menjadi ruang nongkrong yang hidup dan hangat berkat hadirnya Ngopi Klasik, sebuah lapak kopi angkringan sederhana namun penuh makna.
Ngopi Klasik digagas oleh Rifky Sagay, anak muda kreatif yang tak hanya menjual kopi, tetapi juga membangkitkan kembali semangat kawasan tua kota. Ia dikenal sebagai pemberi istilah Kota Tua Manado, sebutan yang kini mulai melekat sebagai identitas baru kawasan ini. Lapak angkringan ini telah berjalan kurang lebih satu bulan sejak grand opening-nya, dan dalam waktu singkat berhasil menarik perhatian anak muda Manado serta menjadi titik kumpul favorit di malam hari.
Berbeda dari tempat ngopi pada umumnya, Ngopi Klasik mengusung konsep angkringan klasik, terinspirasi dari budaya ngopi angkringan di Yogyakarta. Menu andalannya disajikan dari atas motor klasik keluaran tahun 60–70an, lengkap dengan tempat duduk sederhana di trotoar depan toko-toko yang telah tutup sejak sore hari. Aktivitas ini tidak hanya menciptakan suasana syahdu, tetapi juga tidak mengganggu kegiatan ekonomi yang berlangsung pada siang hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ngopi Klasik lahir dari keinginan kami menghidupkan kembali kawasan tua ini. Kami ingin menciptakan ruang nongkrong malam yang nyaman, penuh energi positif, dan terbuka untuk siapa saja,” ungkap Rifky.
Di antara cahaya lampu jalan yang remang dan siluet bangunan tua, orang-orang datang untuk duduk, mengobrol, menikmati syahdunya malam, atau sekadar menikmati kopi, tempat ini kini menjadi titik kumpul favorit anak muda Manado.
Tak sedikit pengunjung yang membagikan pengalamannya melalui media sosial.
Berikut beberapa komentar netizen:
Mr. J: “Saya semalam dari tempat ini ko, tempatnya menurutku sangat bagus dan natural. Tetap pertahankan! Mantap buat orang-orang yang suka kesederhanaan tapi berkelas.”
Bela Nurfatimah: “Siapa yang rindu Jogja? Tenang aja, di Manado udah ada tempat ngopi vibes-nya berasa di Jogja. Harganya kaki lima, tapi rasanya nggak murahan. Jujur, buat sekadar ngopi santai dan new experience, bener-bener berasa bukan ada di Manado.”
Wawan Muhammad: “Abis dari situ tadi, memang vibes-nya kayak angkringan di Jogja dan Surabaya.”
Fenomena ini pelan-pelan mengubah cara pandang masyarakat terhadap kawasan tua. Jika dulu identik dengan kesunyian dan bangunan usang, kini muncul citra baru: ruang sosial yang hidup, inklusif, dan penuh energi positif.
Ngopi Klasik bukan hanya soal kopi. Ia adalah simbol pergerakan komunitas, ruang berbagi semangat, serta bukti bahwa kebangkitan kota bisa dimulai dari inisiatif pemuda. Tak selalu perlu bangunan baru, kadang cukup semangat baru di tempat lama.
Rifky berharap, Pemerintah Kota Manado dapat memberikan dukungan nyata terhadap ruang-ruang alternatif seperti ini. Karena dari titik-titik kecil inilah, Manado bisa tumbuh menjadi kota yang lebih hidup, kreatif, dan berkarakter.
Editor : Lan
Sumber Berita : Penggagas Ngopi Klasik











