PINOGALUMAN,— Tanggal 3 November menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Kecamatan Pinogaluman. Dua puluh tiga tahun silam, tepatnya pada 3 November 2002, wilayah yang dulunya merupakan bagian barat Kecamatan Kaidipang itu resmi berdiri sebagai kecamatan definitif melalui peresmian dan pelantikan camat pertama, Abdul Wahab Razak, S.IP.
Kecamatan Pinogaluman terbentuk melalui perjuangan panjang sejak awal tahun 1960-an. Kala itu, tujuh desa di wilayah barat Kaidipang — Komus, Tuntung, Batutajam, Dalapuli, Buko, Tontulow, dan Kayuogu — menghadapi kesulitan pelayanan pemerintahan akibat kondisi geografis dan keterbatasan akses transportasi.
Dorongan untuk memekarkan diri dari Kecamatan Kaidipang pertama kali muncul pada 1963 melalui inisiatif sejumlah tokoh lintas desa seperti B. Mata, H. Mardani, Hi. G. Razak, Ismail Saidi, hingga L.A. Gobel. Upaya itu sempat membuahkan hasil dengan terbentuknya Kecamatan Perwakilan Buko, namun hanya bertahan dua tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Semangat tersebut kembali menguat pada akhir 1990-an. Para tokoh muda dan masyarakat seperti Salma Razak, SH, Salim bin Abdullah, Saman Razak, Badar Z. Fray, hingga Drs. Abdul Wahab Razak kembali menghidupkan aspirasi pemekaran. Setelah perjuangan panjang dan penolakan awal, pada tahun 2001 dibentuklah Panitia Pemekaran Kecamatan Buko yang melibatkan tokoh lintas desa dan kalangan muda.
Puncak perjuangan terjadi pada 2002 ketika Bupati Bolmong Ny. Dra. Marlina Moha Siahaan mengusulkan nama “Pinogaluman”, yang bermakna perkumpulan berbagai suku, ras, dan agama. Nama ini diambil dari berbagai bahasa daerah—Piloheluma (Gorontalo), Pohogoluma (Kaidipang), Pekakomolang (Sangihe), dan Nopohugaluma (Atinggola).
Melalui Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2002, DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow resmi menetapkan pembentukan Kecamatan Pinogaluman dengan sembilan desa: Kayuogu, Tontulow, Tombulang, Buko, Dalapuli, Batutajam, Tuntung, Komus, dan desa persiapan Dengi. Peresmian dan pelantikan camat pertama dilakukan pada 3 November 2002 di Lapangan Buko, disaksikan ribuan warga.
Sejak saat itu, 3 November ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun Kecamatan Pinogaluman. Sepanjang perjalanannya, kecamatan ini telah dipimpin oleh sembilan camat, dengan Irawati Mooduto, S.Pd sebagai camat saat ini.
Memperingati HUT ke-23 tahun 2025, masyarakat Pinogaluman menggelar Festival Seni dan Budaya yang menampilkan berbagai kearifan lokal seperti masamper, dana-dana, 4 wayer, fashion show baju adat, dan vokal grup busana tradisional.
Ketua Panitia HUT Kecamatan Pinogaluman, Ismail Hasan, S.Sos, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi momentum menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang hampir hilang.
“Setelah 23 tahun berlalu, adat dan budaya Pinogaluman diangkat kembali melalui festival seni budaya yang menampilkan kearifan lokal seperti masamper, dana, 4 wayer, fashion show baju adat, dan vokal grup baju adat,” ujar Ismail.
Ia menambahkan, masyarakat sangat merindukan suasana kebersamaan dan kemeriahan seperti ini.
“Kegiatan ini sangat dirindukan oleh masyarakat Pinogaluman setelah sekian lama tidak ditampilkan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ismail menegaskan pentingnya regenerasi dan pelestarian sejarah melalui kolaborasi lintas generasi.
“Dengan kolaborasi pemerintah kecamatan bersama KNPI, regenerasi akan pentingnya mengenal sejarah perlu terus dilakukan. Kegiatan seperti ini harus menjadi agenda tahunan Pemerintah Kecamatan Pinogaluman,” tandasnya.
Kini, Pinogaluman tidak hanya dikenal sebagai wilayah strategis di pintu utara Bolaang Mongondow Utara yang berbatasan dengan Provinsi Gorontalo, tetapi juga sebagai daerah yang terus menjaga semangat persatuan, budaya, dan perjuangan leluhur yang melahirkan kecamatan ini.
Penulis : IB










