NEW YORK – Harga emas ambruk di sesi perdagangan New York Jumat pagi waktu Asia, seiring menguatnya dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
Sentimen pasar berubah cepat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan kelompok bipartisan untuk menghindari government shutdown menjelang batas waktu pendanaan pemerintah 30 Januari 2026.
Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar atas potensi shutdown yang bisa mengguncang ekonomi dan menekan dolar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Investor pun beralih ke aset berisiko dan melepas posisi safe haven, membuat emas kehilangan daya tariknya.
“Kesepakatan bipartisan menjadi sinyal positif bagi stabilitas fiskal AS. Imbal hasil obligasi naik dan dolar kembali menguat tajam, membuat emas terkoreksi cepat,” tulis analis di Agrodana Futures dalam catatan pagi ini.
Trump Ulur Waktu dengan Iran
Selain faktor fiskal, pasar juga mencermati langkah Trump yang disebut mengulur waktu serangan ke Iran. Gedung Putih dilaporkan kembali menawarkan jalur diplomasi meski sebelumnya ditolak keras oleh Teheran.
Namun, Trump juga dikabarkan telah menambah kekuatan militer di perairan sekitar Iran, strategi yang mirip ketika AS menekan Venezuela beberapa tahun lalu.
Situasi ini dinilai “abu-abu” oleh pelaku pasar. Jika diplomasi kembali gagal, tensi geopolitik bisa melonjak dan memicu pembalikan cepat harga emas di akhir pekan.
Sebaliknya, bila Iran merespons positif tawaran diplomasi, emas berpotensi terkoreksi lebih dalam hingga menutup gap harga yang terbentuk pada 26 Januari 2026.
Rumor Calon Ketua The Fed: Kevin Warsh Diunggulkan
Di sisi lain, fokus utama investor kini tertuju pada pengumuman calon Ketua Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan Jumat pagi waktu Washington atau malam hari waktu Indonesia.
Dua nama yang paling banyak disebut adalah Kevin Warsh dan Rick Rieder, namun sumber internal Gedung Putih mengindikasikan Warsh memiliki peluang lebih besar.
Warsh dikenal sebagai mantan anggota Dewan Gubernur The Fed periode 2006–2011 dengan reputasi cenderung hawkish di masa lalu.
Pandangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa ia bisa berseberangan dengan agenda Trump yang mendorong penurunan suku bunga agresif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Pasar masih menunggu kepastian. Jika Warsh benar ditunjuk, pasar bisa menilai The Fed akan lebih berhati-hati dalam pemangkasan suku bunga, dan itu artinya tekanan untuk emas bisa berlanjut,” ujar seorang analis pasar uang di New York.
Outlook: Waspadai Volatilitas Akhir Pekan
Meskipun pasar merespons positif kabar kesepakatan bipartisan, ketidakpastian tetap tinggi menjelang pengumuman Ketua The Fed dan arah hubungan AS–Iran.
Investor diperkirakan tetap waspada terhadap potensi reversal harga emas jika muncul kejutan geopolitik.
“Malam ini bisa jadi penuh kejutan. Jika diplomasi gagal atau Trump memilih figur yang lebih dovish untuk The Fed, emas bisa melonjak tajam kembali,” tulis riset harian Agrodana Futures.
Ringkasan:
Emas turun tajam di sesi New York, dipicu penguatan dolar & lonjakan yield obligasi.
Trump capai kesepakatan bipartisan, AS terhindar dari shutdown.
Diplomasi AS–Iran masih tak pasti, bisa jadi pemicu volatilitas emas.
Kevin Warsh dirumorkan akan diumumkan sebagai Ketua The Fed pengganti Powell.
Penulis : IB











